Solskjaer Optimis De Gea serta Martial Bakal Segera Perpanjang Kontrak
Solskjaer Optimis De Gea serta Martial Bakal Segera Perpanjang Kontrak

Juru tak-tik Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, yakin jika Anthony Martial serta David de Gea bakal segera memperbarui kesepakatan kontraknya. Dia berharap ke 2 bintang ini bakal menandatangani pembaruan kesepakatan kontrak di dalam beberapa hari ke depan.

Martial serta De Gea sekarang dikatakan tengah menjalani perundingan buat menandatangani kesepakatan kontrak jangka lama. Kesepakatan kontrak anyar diperlukan buat menjauhkan Martial dan De Gea dari kejaran tim-tim raksasa Eropa.

“Saya pikir, dewan tim telah punya perkembangan di dalam perundingan soal kesepakatan kontrak dari sejumlah pemain. Namun, aku menyerahkan hal tersebut pada orang yang ideal,” tutur Solskjaer dilansir melalui FourFourTwo.

“Saya sesungguhnya tidak paham peningkatan tawar menawar kesepakatan kontrak dengan sejumlah pemain. Aku sama sekali tidak berpikir hal tersebut. Namun, moga-moga dapat memperoleh kejelasan serta laporan bagus dalam waktu beberapa hari ke depan,” tambah lelaki 45 tahun tersebut.

Sekarang, Eric Bailly disebut-sebut tengah jadi bidikan utama dari Arsenal yang mendapatkan krisis penggawa belakang. Solskjaer juga menyatakan jika ia sama sekali tidak terkejut saat mendengar laporan ini. Menurut pendapatnya, kemungkinan soal transfer para pemain pada banyak surat kabar bakal terus ada.

“Saya tidak terkejut mendengar laporan minat Arsenal. Untuk aku, hal tersebut cuma pemberitaan yang dibikin oleh wartawan. Spekulasi seperti itu bakal terus tersedia serta aku sama sekali tidak kaget mendengarnya.”

Kane Beri Kemenangan Perdana Spurs di Liga Champions

Tottenham Hotspur pada akhirnya mendapat kemenangan perdananya pada ajang Liga Champions kampanye musim ini. Melawan PSV Eindhoven di Wembley, Spurs sukses unggul 2-1. Ialah Harry Kane yang jadi bintang kemenangan THP melalui 2 goal yang dia ciptakan.

Meski unggul, Spurs sempat dibikin kewalahan oleh PSV pada babak ke 1. Mereka malahan sempat tertinggal 0-1 sejak menit ke 2 usai Luuk de Jong menyarangkan goal pembuka sehabis mendapat assist Gaston Pereiro.

Ketinggalan dengan gol cepat menjadikan Spurs tersentak. Spurs langsung memperagakan permainan pressing tinggi. Ben Davies mendapat kesempatan perdana buat memaksakan skor jadi imbang pada menit ke-10. Namun upayanya kali itu masih bisa ditepis penjaga gawang lawan.

Saat laga sudah berjalan hingga menit ke-28, giliran tembakan keras melalui luar jantung pertahanan punya Christian Eriksen yang dikandaskan penjaga gawang PSV, Jeroen Zoet. Ketangguhan Zoet dibawah mistar itu pun menjadikan babak pertama berkesudahan dengan skor 1-0 buat keunggulan kesebelasannya.

Spurs yang tak mau dipermalukan di depan publik sendiri mengerjakan transformasi pada fase ke 2. Keputusan itu juga berdampak bagus pada permainan team di rumput hijau.

Menguasai 70% penguasaan bola, The Lilywhites pada akhirnya bisa memaksakan skor jadi imbang pada menit ke-78 lewat Harry Kane. Ujung tombak tim nasional Inggris itu dengan dingin meneruskan assist Fernando Llorente yang baru diturunkan di babak ke 2.

Tuah Kane di pertandingan itu juga ditutup dengan sempurna pada akhir pertandingan. Sundulannya 1 menit menyambut bubaran membikin anak didik Mauricio Pochettino mendapat kemenangan pertamanya pada turnamen bergengsi Eropa musim ini.

Meski menang, tambahan 3 angka tidak bisa menghantarkan Tottenham naik peringkat. Mereka masih tertahan pada peringkat ke 3 Grup B bersama koleksi 4 angka. Sementara PSV tak beranjak dari tempat ke 4 bersama 1 poin.

Luis Enrique Sebut Performa Spanyol Saat Libas Wales Nyaris Sempurna

Pelatih tim nasional Spanyol, Luis Enrique, mengakui bahwa ia amat senang dengan penampilan anak asuhnya kala melawan Wales pada pertandingan persahabatan.

Di partai yang dimulai di Cardiff City Stadium, Jumat (12/10) dini hari WIB, tim nasional Spanyol sukses mendapat hasil positif 4-1.

Gol-gol hasil positif tim nasional Spanyol sukses dilesakkan oleh Paco Alcacer (menit ke-8, 29′), Sergio Ramos (19′), serta Marc Bartra (74′).

Sedangkan 1 gol hiburan dari tim nasional Wales dilesakkan Sam Vokes saat laga sudah berjalan hingga menit ke-89.

Setelah laga, juru tak-tik Luis Enrique mengaku amat senang bersama penampilan anak asuhnya.

Saking girangnya, mantan juru tak-tik Barcelona ini menyatakan jika performa bintang-bintang tim nasional Spanyol pada pertandingan itu hampir perfect.

“Awalnya aku tak pernah menyangka mereka bakal main seperti itu. Sikap kami di dalam melawan laga itu pun nyaris perfect, ” tutur Luis Enrique.

“Mereka senantiasa berlari, memberikan tekanan, bekerja keras melalui menit perdana sampai paling akhir, dan memperlihatkan jika mereka tak menganggap itu sebagai laga friendly ataupun sejenisnya, ” katanya.

Teco Lega Persija Tak Jalani Laga Usiran Lagi

Manajer Persija Jakarta, Stefano Cugurra alias Teco menyongsong gembira keputusan skuatnya balik lagi menggelar pertandingan kandang di seputar Jakarta.

Persija bakal menghadapi Perseru Serui pada lanjutan Liga 1 kompetisi musim 2018 Matchday ke-24 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Senin (8/10), pukul 16. 00 WIB.

Itu merupakan pertama-tama kalinya bagi Persija balik lagi menuju ke Jabodetabek usai melakoni 5 markas usiran di Stadion Sultan Agung, Bantul.

“Pasti setingkat lebih baik bagi skuat. Di Liga 1 bermain di markas (SUGBK) anyar tiga kali. Sedangkan di babak 2 telah bermain berapa kali posisi netral, dapat kembali menuju sekitaran Jakarta setingkat lebih baik, ” tutur Teco melalui rilis resmi Persija.

“Supporter nyaris menuju ke stadion. Skuat pun tak kelelahan di jalan sebab penerbangan. Ini berimbas menuju ke tenaga serta stress. Menjadi setingkat lebih baik, ” katanya.

Cuma saja Teco menyayangkan laga itu di sore hari sebab bakal berimbas kepada angka penggemar yang akan hadir secara langsung untuk melihat laga.

Tapi ia menyatakan jika pihaknya cuma mengikuti saja waktu permainan yang telah ditetapkan PT Liga Indonesia Baru, yang adalah operator turnamen.

“Buat kesebelasan tidak bermasalah. Kemungkinan bagi supporter beberapa bekerja. Jika bermain 18. 30 stadion bakal setingkat lebih maksimal. Namun ini peraturan liga seharusnya turut saja, ” kata Teco.

Luka Modric: Prancis Unggul Sebab Dibantu Sang pengadil

Leader Tim nasional Kroasia, Luka Modric mengakui masih menyesal dengan hasil negatif kesebelasannya pada laga pamungkas Piala Dunia 2018. Modric memperhitungkan kesebelasannya berlaga setingkat lebih bagus ketimbang Tim nasional Prancis, hingga mereka sedikit lebih pantas menjadi jawara.

Kroasia sendiri sukses main di luar harapan publik di Piala Dunia 2018. Untuk perdana kalinya sepanjang sejarah, The Vatreni sukses melaju menuju laga pamungkas Piala Dunia sejak federasi sepak bola mereka terbentuk.

Tapi dalam laga pamungkas, Kroasia mesti takluk vs rival mereka, Prancis. Mereka mesti kalah dengan score 4-2 dari kesebelasan yang dijuluki Les Bleus itu.

Modric sendiri mengatakan jika kesebelasannya setingkat lebih pantas untuk mengangkat trofi daripada Prancis. “Semua bintang rombongan saya mengalami hal yang serupa, yakni rombongan saya tak layak menerima kekalahan,” tutur Modric pada situs berita bola Sportsmole.

Modric sendiri menuduh jika sang pengadil setingkat lebih condong membela Prancis di partai itu serta ini bisa dibuktikan dari keputusan-keputusan yang dibikin sang pengadil selama pertandingan.

“Saya pikir rombongan saya merupakan kesebelasan yang setingkat lebih bagus dari Prancis, tapi terkadang kesebelasan yang setingkat lebih bagus tak merebut kemenangan.”

“Kami jua terkesima rombongan saya mendapat tendangan penalty, khususnya sebab pelanggaran yang dia berikan di goal perdana mereka, menurut aku bukan sebuah pelanggaran serta rombongan saya dapat bangkit dari ini.”

Modric jua menyesalkan hukuman penalti yang diberikan oleh sang pengadil Nestor Pitana ini, sebab dia memperhitungkan hukuman penalti ini mematikan gairah kesebelasannya.”

“Kami sukses berlaga dengan bagus serta rombongan saya memainkan sepak bola yang baik selama laga. Lantas sang pengadil mengasih hukuman penalti buat mereka [Prancis] serta ini mematikan rombongan saya.”

“Tak simpel buat bangkit dari situasi itu, tapi rombongan saya selalu coba. Rombongan saya selalu berupaya sampai akhir serta rombongan saya betul-betul bangga dengan bagaimana cara rombongan saya berlaga. Tapi sayang ini tak cukup membikin rombongan saya unggul,” tambahnya.

3 Sebab Kroasia Dapat Tumbangkan Prancis di Laga pamungkas Piala Dunia 2018

Kroasia sukses menorehkan history anyar berita bola pada turnamen Piala Dunia. Mereka dengan cara mencengangkan melaju menuju pertandingan puncak pada edisi 2018 usai sebelumnya mengalahkan Inggris.

Dengan begitu, kesebelasan bimbingan Zlatko Dalic tersebut jadi negeri ke-13 yang main di laga pamungkas kompetisi terbesar 4 tahunan itu. Mereka kini telah melalui prestasi para senior mereka yang finis di tempat ke 3 pada edisi 1998.

Di pertandingan final, Kroasia bakal menghadapi Prancis di Luzhniki Stadium, Moskow pada Minggu (14/07) dini hari WIB. Walau Prancis amat diunggulkan namun Kroasia dapat jadi jawara.

Di bawah ini website berita Liga Inggris terkini sajikan 3 sebab kenapa Kroasia dapat menghajar Prancis di laga pamungkas Piala Dunia 2018 menurut yang sudah diberitakan Sportskeeda.

Peluang Emas Menjadi Jawara – Kroasia pada Piala Dunia 1998 di Prancis disebut menjadi generasi emas sebab bisa finis di posisi ke 3. Tapi, generasi emas ke 2 ini bisa melalui pencapaian seniornya dan bisa sampai laga pamungkas.

Wawancara redaksi Liga Spanyol dengan salah satu pemain Kroasia, Kroasia amat menyadari jika mereka enggak seperti negeri-negeri sepak bola raksasa mirip Jerman, Argentina, dan Brasil yang dapat membuat tim yang hebat tiap-tiap 4 tahun untuk jadi rival dalam perburuan piala.

Kroasia perlu menanti dua puluh tahun untuk bisa sampai paruh sistem gugur di Piala Dunia & tak bakal menyia-nyiakan peluang emas ini. Negeri Eropa Bagian timur tersebut dapat dikatakan enggak bakal sekalipun mendapat peluang lain untuk menuliskan namanya di dalam history sepak bola.

Kroasia bakal masuk ke pertandingan final menjadi kuda hitam, namun pada kala yang serupa, mereka jua dipenuhi rasa optimis sebab mereka telah mendapat kejayaan yang tidak sempat berlangsung sebelumnya di dalam 1 bulan terbaru.

Tiap-tiap bintang telah memperlihatkan performa paling bagusnya hingga takkan tersedia kekecewaan saat peluit panjang diperdengarkan. Kroasia takkan membikin perubahan strategi & bakal berlaga sesuai dengan kualitasnya.

8 tahun silam pada edisi 2010, Belanda hampir membuat history, namun tekanan main di laga pamungkas Piala Dunia rasa-rasanya membikin mereka tak dapat merebut kemenangan dan menerima kekalahan 1-0 di waktu tambahan vs Spanyol.

Menurut ulasan Liga Italia Kroasia bakal memperoleh pelajaran dari masa silam dan memastikan jika tekanan tak diperkenankan sampai memiliki imbas pada performa mereka.

Sikap Pantang Menyerah Kroasia – Kroasia mengawali turnamen Piala Dunia mereka dengan mendapat kemenangan 2-0 vs Nigeria. Mereka lantas menghajar Argentina dengan score 3-0 untuk melaju menuju fase ENAM BELAS besar. Mereka jadi jawara grup dengan 9 angka dan diunggulkan untuk memenangkan laga fase 16 besar vs Denmark.

Kroasia sempat kemasukan terlebih dahulu ketika menghadapi Denmark. Tapi, tak lama kemudian bomber Kroasia, Mario Mandzukic menyarangkan goal untuk memaksakan skor jadi imbang.

Kapten Kroasia, Luka Modric punya peluang untuk mengantarkan kesebelasannya unggul saat laga sudah berjalan hingga menit ke-116 dari titik putih namun sukses dikandaskan oleh penjaga gawang Denmark, Kasper Schmeichel dan laga perlu ditentukan via drama tembakan penalti.

Denmark lumayan optimis sebab mereka sebelumnya sukses mengandaskan penalti Modric. Tapi, Kroasia memperlihatkan mentalitas yang hebat dan akhirnya livescore menunjukan Kroasia unggul 3-2 pada fase tos-tosan.

Pada laga perempat-final vs Rusia, Kroasia lagi-lagi kemasukan lebih dulu namun lantas bisa memaksakan skor jadi imbang sebelum jeda paruh pertama. 90 menit tidak bisa mendapatkan juara dan Kroasia balik lagi masuk ke waktu tambahan.

Domagoj Vida berhasil menyarangkan goal saat laga sudah berjalan hingga menit ke-100 dan sepertinya Kroasia bakal ke semi-final Piala Dunia perdana mereka di dalam DUA PULUH tahun. Tapi, Rusia dapat memaksakan skor jadi imbang & laga perlu ditentukan via drama tembakan penalti.

Kroasia unggul dengan score 4-3 di dalam drama adu penalti dan jadi kesebelasan ke 2 di dalam history Piala Dunia yang memenangkan 2 adu penalti dengan cara beruntun usai Argentina di tahun 1990.

Laga semi-final vs Inggris balik lagi memperlihatkan kisah yang serupa saat Kroasia kemasukan terlebih dahulu dan bangkit dari ketertinggalan di waktu tambahan.

Sepanjang fase knockout, Kroasia perlu bertanding sepanjang 2 jam di dalam 3 laga beruntun & mereka hampir gagal di tiap-tiap peluang namun tidak mau untuk menyerah.

Pengalaman bangkit dari ketertinggalan di dalam 3 laga beruntun jelas bakal amat bermanfaat di dalam laga pamungkas vs Prancis.

Kedalaman Sektor Tengah – Kroasia bisa sampai kesuksesan akhir-akhir ini sebab sektor tengah mereka yang kuat, apabila kita melihat di line up yang disajikan livescore. Bintang kayak Ivan Rakitic, Ivan Perisic, Mateo Kovacic serta leader Luka Modric amat vital di dalam membuat sektor tengah yang hebat dan jadi bintang kunci dari generasi emas Kroasia sekarang.

Performa transisi adalah satu diantara kedalaman terakbar Kroasia dan sektor tengah memainkan fungsi yang amat vital di dalam hal tersebut.

Dengan cara historis, sektor tengah yang hebat telah terbukti amat vital untuk keberhasilan kesebelasan. Era keemasan Spanyol dibela oleh pemain berposisi gelandang kayak Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets dan juga Xabi Alonso. Mereka bisa mengantarkan La Roja menuju tingkat yang amat tinggi.

Jerman yang memenangi Piala Dunia di Brasil 4 tahun silam jua memiliki pemain berposisi gelandang yang hebat sebagaimana Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos & Mario Gotze.

Kualitas sektor tengah Kroasia dapat jadi kedalaman terakbar mereka di laga final vs Prancis sebab tiap-tiap pesepakbola memiliki talenta untuk mengantarkan kesebelasannya mendapat kejayaan di Piala Dunia.