Kane Beri Kemenangan Perdana Spurs di Liga Champions
Kane Beri Kemenangan Perdana Spurs di Liga Champions

Tottenham Hotspur pada akhirnya mendapat kemenangan perdananya pada ajang Liga Champions kampanye musim ini. Melawan PSV Eindhoven di Wembley, Spurs sukses unggul 2-1. Ialah Harry Kane yang jadi bintang kemenangan THP melalui 2 goal yang dia ciptakan.

Meski unggul, Spurs sempat dibikin kewalahan oleh PSV pada babak ke 1. Mereka malahan sempat tertinggal 0-1 sejak menit ke 2 usai Luuk de Jong menyarangkan goal pembuka sehabis mendapat assist Gaston Pereiro.

Ketinggalan dengan gol cepat menjadikan Spurs tersentak. Spurs langsung memperagakan permainan pressing tinggi. Ben Davies mendapat kesempatan perdana buat memaksakan skor jadi imbang pada menit ke-10. Namun upayanya kali itu masih bisa ditepis penjaga gawang lawan.

Saat laga sudah berjalan hingga menit ke-28, giliran tembakan keras melalui luar jantung pertahanan punya Christian Eriksen yang dikandaskan penjaga gawang PSV, Jeroen Zoet. Ketangguhan Zoet dibawah mistar itu pun menjadikan babak pertama berkesudahan dengan skor 1-0 buat keunggulan kesebelasannya.

Spurs yang tak mau dipermalukan di depan publik sendiri mengerjakan transformasi pada fase ke 2. Keputusan itu juga berdampak bagus pada permainan team di rumput hijau.

Menguasai 70% penguasaan bola, The Lilywhites pada akhirnya bisa memaksakan skor jadi imbang pada menit ke-78 lewat Harry Kane. Ujung tombak tim nasional Inggris itu dengan dingin meneruskan assist Fernando Llorente yang baru diturunkan di babak ke 2.

Tuah Kane di pertandingan itu juga ditutup dengan sempurna pada akhir pertandingan. Sundulannya 1 menit menyambut bubaran membikin anak didik Mauricio Pochettino mendapat kemenangan pertamanya pada turnamen bergengsi Eropa musim ini.

Meski menang, tambahan 3 angka tidak bisa menghantarkan Tottenham naik peringkat. Mereka masih tertahan pada peringkat ke 3 Grup B bersama koleksi 4 angka. Sementara PSV tak beranjak dari tempat ke 4 bersama 1 poin.

Luis Enrique Sebut Performa Spanyol Saat Libas Wales Nyaris Sempurna
Luis Enrique Sebut Performa Spanyol Saat Libas Wales Nyaris Sempurna

Pelatih tim nasional Spanyol, Luis Enrique, mengakui bahwa ia amat senang dengan penampilan anak asuhnya kala melawan Wales pada pertandingan persahabatan.

Di partai yang dimulai di Cardiff City Stadium, Jumat (12/10) dini hari WIB, tim nasional Spanyol sukses mendapat hasil positif 4-1.

Gol-gol hasil positif tim nasional Spanyol sukses dilesakkan oleh Paco Alcacer (menit ke-8, 29′), Sergio Ramos (19′), serta Marc Bartra (74′).

Sedangkan 1 gol hiburan dari tim nasional Wales dilesakkan Sam Vokes saat laga sudah berjalan hingga menit ke-89.

Setelah laga, juru tak-tik Luis Enrique mengaku amat senang bersama penampilan anak asuhnya.

Saking girangnya, mantan juru tak-tik Barcelona ini menyatakan jika performa bintang-bintang tim nasional Spanyol pada pertandingan itu hampir perfect.

“Awalnya aku tak pernah menyangka mereka bakal main seperti itu. Sikap kami di dalam melawan laga itu pun nyaris perfect, ” tutur Luis Enrique.

“Mereka senantiasa berlari, memberikan tekanan, bekerja keras melalui menit perdana sampai paling akhir, dan memperlihatkan jika mereka tak menganggap itu sebagai laga friendly ataupun sejenisnya, ” katanya.

Teco Lega Persija Tak Jalani Laga Usiran Lagi
Teco Lega Persija Tak Jalani Laga Usiran Lagi

Manajer Persija Jakarta, Stefano Cugurra alias Teco menyongsong gembira keputusan skuatnya balik lagi menggelar pertandingan kandang di seputar Jakarta.

Persija bakal menghadapi Perseru Serui pada lanjutan Liga 1 kompetisi musim 2018 Matchday ke-24 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Senin (8/10), pukul 16. 00 WIB.

Itu merupakan pertama-tama kalinya bagi Persija balik lagi menuju ke Jabodetabek usai melakoni 5 markas usiran di Stadion Sultan Agung, Bantul.

“Pasti setingkat lebih baik bagi skuat. Di Liga 1 bermain di markas (SUGBK) anyar tiga kali. Sedangkan di babak 2 telah bermain berapa kali posisi netral, dapat kembali menuju sekitaran Jakarta setingkat lebih baik, ” tutur Teco melalui rilis resmi Persija.

“Supporter nyaris menuju ke stadion. Skuat pun tak kelelahan di jalan sebab penerbangan. Ini berimbas menuju ke tenaga serta stress. Menjadi setingkat lebih baik, ” katanya.

Cuma saja Teco menyayangkan laga itu di sore hari sebab bakal berimbas kepada angka penggemar yang akan hadir secara langsung untuk melihat laga.

Tapi ia menyatakan jika pihaknya cuma mengikuti saja waktu permainan yang telah ditetapkan PT Liga Indonesia Baru, yang adalah operator turnamen.

“Buat kesebelasan tidak bermasalah. Kemungkinan bagi supporter beberapa bekerja. Jika bermain 18. 30 stadion bakal setingkat lebih maksimal. Namun ini peraturan liga seharusnya turut saja, ” kata Teco.

Luka Modric: Prancis Unggul Sebab Dibantu Sang pengadil
Luka Modric: Prancis Unggul Sebab Dibantu Sang pengadil

Leader Tim nasional Kroasia, Luka Modric mengakui masih menyesal dengan hasil negatif kesebelasannya pada laga pamungkas Piala Dunia 2018. Modric memperhitungkan kesebelasannya berlaga setingkat lebih bagus ketimbang Tim nasional Prancis, hingga mereka sedikit lebih pantas menjadi jawara.

Kroasia sendiri sukses main di luar harapan publik di Piala Dunia 2018. Untuk perdana kalinya sepanjang sejarah, The Vatreni sukses melaju menuju laga pamungkas Piala Dunia sejak federasi sepak bola mereka terbentuk.

Tapi dalam laga pamungkas, Kroasia mesti takluk vs rival mereka, Prancis. Mereka mesti kalah dengan score 4-2 dari kesebelasan yang dijuluki Les Bleus itu.

Modric sendiri mengatakan jika kesebelasannya setingkat lebih pantas untuk mengangkat trofi daripada Prancis. “Semua bintang rombongan saya mengalami hal yang serupa, yakni rombongan saya tak layak menerima kekalahan,” tutur Modric pada situs berita bola Sportsmole.

Modric sendiri menuduh jika sang pengadil setingkat lebih condong membela Prancis di partai itu serta ini bisa dibuktikan dari keputusan-keputusan yang dibikin sang pengadil selama pertandingan.

“Saya pikir rombongan saya merupakan kesebelasan yang setingkat lebih bagus dari Prancis, tapi terkadang kesebelasan yang setingkat lebih bagus tak merebut kemenangan.”

“Kami jua terkesima rombongan saya mendapat tendangan penalty, khususnya sebab pelanggaran yang dia berikan di goal perdana mereka, menurut aku bukan sebuah pelanggaran serta rombongan saya dapat bangkit dari ini.”

Modric jua menyesalkan hukuman penalti yang diberikan oleh sang pengadil Nestor Pitana ini, sebab dia memperhitungkan hukuman penalti ini mematikan gairah kesebelasannya.”

“Kami sukses berlaga dengan bagus serta rombongan saya memainkan sepak bola yang baik selama laga. Lantas sang pengadil mengasih hukuman penalti buat mereka [Prancis] serta ini mematikan rombongan saya.”

“Tak simpel buat bangkit dari situasi itu, tapi rombongan saya selalu coba. Rombongan saya selalu berupaya sampai akhir serta rombongan saya betul-betul bangga dengan bagaimana cara rombongan saya berlaga. Tapi sayang ini tak cukup membikin rombongan saya unggul,” tambahnya.

3 Sebab Kroasia Dapat Tumbangkan Prancis di Laga pamungkas Piala Dunia 2018
3 Sebab Kroasia Dapat Tumbangkan Prancis di Laga pamungkas Piala Dunia 2018

Kroasia sukses menorehkan history anyar berita bola pada turnamen Piala Dunia. Mereka dengan cara mencengangkan melaju menuju pertandingan puncak pada edisi 2018 usai sebelumnya mengalahkan Inggris.

Dengan begitu, kesebelasan bimbingan Zlatko Dalic tersebut jadi negeri ke-13 yang main di laga pamungkas kompetisi terbesar 4 tahunan itu. Mereka kini telah melalui prestasi para senior mereka yang finis di tempat ke 3 pada edisi 1998.

Di pertandingan final, Kroasia bakal menghadapi Prancis di Luzhniki Stadium, Moskow pada Minggu (14/07) dini hari WIB. Walau Prancis amat diunggulkan namun Kroasia dapat jadi jawara.

Di bawah ini website berita Liga Inggris terkini sajikan 3 sebab kenapa Kroasia dapat menghajar Prancis di laga pamungkas Piala Dunia 2018 menurut yang sudah diberitakan Sportskeeda.

Peluang Emas Menjadi Jawara – Kroasia pada Piala Dunia 1998 di Prancis disebut menjadi generasi emas sebab bisa finis di posisi ke 3. Tapi, generasi emas ke 2 ini bisa melalui pencapaian seniornya dan bisa sampai laga pamungkas.

Wawancara redaksi Liga Spanyol dengan salah satu pemain Kroasia, Kroasia amat menyadari jika mereka enggak seperti negeri-negeri sepak bola raksasa mirip Jerman, Argentina, dan Brasil yang dapat membuat tim yang hebat tiap-tiap 4 tahun untuk jadi rival dalam perburuan piala.

Kroasia perlu menanti dua puluh tahun untuk bisa sampai paruh sistem gugur di Piala Dunia & tak bakal menyia-nyiakan peluang emas ini. Negeri Eropa Bagian timur tersebut dapat dikatakan enggak bakal sekalipun mendapat peluang lain untuk menuliskan namanya di dalam history sepak bola.

Kroasia bakal masuk ke pertandingan final menjadi kuda hitam, namun pada kala yang serupa, mereka jua dipenuhi rasa optimis sebab mereka telah mendapat kejayaan yang tidak sempat berlangsung sebelumnya di dalam 1 bulan terbaru.

Tiap-tiap bintang telah memperlihatkan performa paling bagusnya hingga takkan tersedia kekecewaan saat peluit panjang diperdengarkan. Kroasia takkan membikin perubahan strategi & bakal berlaga sesuai dengan kualitasnya.

8 tahun silam pada edisi 2010, Belanda hampir membuat history, namun tekanan main di laga pamungkas Piala Dunia rasa-rasanya membikin mereka tak dapat merebut kemenangan dan menerima kekalahan 1-0 di waktu tambahan vs Spanyol.

Menurut ulasan Liga Italia Kroasia bakal memperoleh pelajaran dari masa silam dan memastikan jika tekanan tak diperkenankan sampai memiliki imbas pada performa mereka.

Sikap Pantang Menyerah Kroasia – Kroasia mengawali turnamen Piala Dunia mereka dengan mendapat kemenangan 2-0 vs Nigeria. Mereka lantas menghajar Argentina dengan score 3-0 untuk melaju menuju fase ENAM BELAS besar. Mereka jadi jawara grup dengan 9 angka dan diunggulkan untuk memenangkan laga fase 16 besar vs Denmark.

Kroasia sempat kemasukan terlebih dahulu ketika menghadapi Denmark. Tapi, tak lama kemudian bomber Kroasia, Mario Mandzukic menyarangkan goal untuk memaksakan skor jadi imbang.

Kapten Kroasia, Luka Modric punya peluang untuk mengantarkan kesebelasannya unggul saat laga sudah berjalan hingga menit ke-116 dari titik putih namun sukses dikandaskan oleh penjaga gawang Denmark, Kasper Schmeichel dan laga perlu ditentukan via drama tembakan penalti.

Denmark lumayan optimis sebab mereka sebelumnya sukses mengandaskan penalti Modric. Tapi, Kroasia memperlihatkan mentalitas yang hebat dan akhirnya livescore menunjukan Kroasia unggul 3-2 pada fase tos-tosan.

Pada laga perempat-final vs Rusia, Kroasia lagi-lagi kemasukan lebih dulu namun lantas bisa memaksakan skor jadi imbang sebelum jeda paruh pertama. 90 menit tidak bisa mendapatkan juara dan Kroasia balik lagi masuk ke waktu tambahan.

Domagoj Vida berhasil menyarangkan goal saat laga sudah berjalan hingga menit ke-100 dan sepertinya Kroasia bakal ke semi-final Piala Dunia perdana mereka di dalam DUA PULUH tahun. Tapi, Rusia dapat memaksakan skor jadi imbang & laga perlu ditentukan via drama tembakan penalti.

Kroasia unggul dengan score 4-3 di dalam drama adu penalti dan jadi kesebelasan ke 2 di dalam history Piala Dunia yang memenangkan 2 adu penalti dengan cara beruntun usai Argentina di tahun 1990.

Laga semi-final vs Inggris balik lagi memperlihatkan kisah yang serupa saat Kroasia kemasukan terlebih dahulu dan bangkit dari ketertinggalan di waktu tambahan.

Sepanjang fase knockout, Kroasia perlu bertanding sepanjang 2 jam di dalam 3 laga beruntun & mereka hampir gagal di tiap-tiap peluang namun tidak mau untuk menyerah.

Pengalaman bangkit dari ketertinggalan di dalam 3 laga beruntun jelas bakal amat bermanfaat di dalam laga pamungkas vs Prancis.

Kedalaman Sektor Tengah – Kroasia bisa sampai kesuksesan akhir-akhir ini sebab sektor tengah mereka yang kuat, apabila kita melihat di line up yang disajikan livescore. Bintang kayak Ivan Rakitic, Ivan Perisic, Mateo Kovacic serta leader Luka Modric amat vital di dalam membuat sektor tengah yang hebat dan jadi bintang kunci dari generasi emas Kroasia sekarang.

Performa transisi adalah satu diantara kedalaman terakbar Kroasia dan sektor tengah memainkan fungsi yang amat vital di dalam hal tersebut.

Dengan cara historis, sektor tengah yang hebat telah terbukti amat vital untuk keberhasilan kesebelasan. Era keemasan Spanyol dibela oleh pemain berposisi gelandang kayak Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets dan juga Xabi Alonso. Mereka bisa mengantarkan La Roja menuju tingkat yang amat tinggi.

Jerman yang memenangi Piala Dunia di Brasil 4 tahun silam jua memiliki pemain berposisi gelandang yang hebat sebagaimana Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos & Mario Gotze.

Kualitas sektor tengah Kroasia dapat jadi kedalaman terakbar mereka di laga final vs Prancis sebab tiap-tiap pesepakbola memiliki talenta untuk mengantarkan kesebelasannya mendapat kejayaan di Piala Dunia.

Generasi Emas Udah Tua, Lukaku: Belgia Musti Jadi Jawara
Generasi Emas Udah Tua, Lukaku: Belgia Musti Jadi Jawara

Romelu Lukaku menganggap jika title jawara di Piala Dunia 2018 bakal amat vital untuk Belgia. Karena, kemungkinan Piala Dunia 2018 menjadi momen pamungkas generasi emas yang dipunyai Belgia berlaga 1 team.

Belgia sekarang emang dikatakan lagi mempunyai generasi emas. Karena, bila menilik komposisi punggawa Setan Merah, terdapat sejumlah punggawa superstar yang tersebar di seluruh barisan permainan.

Sebelum mempunyai generasi sekarang, Belgia musti melakoni 12 tahun tiada ambil bagian di kompetisi raksasa. Belgia Lalu masuk ke Piala Dunia 2014 kemudian Euro 2016. Sekarang, di bawah didikan Roberto Martinez, Belgia menjadi unggulan di Piala Dunia 2018.

Perjuangan Belgia di Rusia sangat disorot sebab di tempati sejumlah bakat terbeken kayak Eden Hazard, Kevin De Bruyne, tahunibaut Courtois serta Lukaku.

Berdasarkan Lukaku, Belgia musti menjadi jawara Tropi Dunia 2018. Karena, title ini akan menjadi penanda keberhasilan generasi emas. Terlebih, sejumlah punggawa sekarang telah berumur 30 tahun dan barangkali takkan main di Piala Dunia 2022.

“Ini barangkali bakal menjadi kompetisi pamungkas untuk generasi kami sebab sejumlah punggawa bakal retirement. Jadi, kami bakal berusaha tuk membikin history. Kami musti jadi jawara,” kata Lukaku kepada wartawan livescore Liga Champions Eropa.

Sejumlah punggawa Belgia telah berumur di atas 30 tahun yaitu Thomas Vermaelen [32 tahun], Vincent Kompany [32 tahun], Jan Vertonghen [31 tahun], Dries Mertens [31 tahun], Mousa Dembele [30 tahun] lalu Maroane Fellaini [30 tahun].

4 Team Favorit Jadi Jawara di Piala Dunia 2018
4 Team Favorit Jadi Jawara di Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 bakal diselenggarakan di Rusia di 14 Juni hingga 15 Juli. Sebanyak 32 negeri akan berduel guna perebutan status jawara dunia. Semua orang tentu mempunyai team favoritnya masing-masing di Rusia. Tapi, sebagian besar orang tentu bakal memilih team yang bertabur superstar sebagai jawara. Di bawah ini 4 team favorit yang dianggap mampu menjuarai Piala Dunia 2018 sebagaimana menurut FIFA yang kami dapat dari berita Piala Dunia.

1. Brasil – Brasil telah menjelma di bawah didikan Tite. Mereka merupakan negeri pertama selain tuan rumah penyelenggara yang memastikan diri pentas ke Rusia di musim panas ini. Brasil rasa-rasanya telah dapat melupakan hasil negatif memalukan 7-1 vs Jerman di tahun 2014 kemarin. Mereka sukses mengatasi sang jawara dunia 1-0 di Berlin. Gabriel Jesus, Alisson serta Philippe Coutinho telah tumbuh, semenjak Piala Dunia terakhirnya. Mereka mempunyai sejumlah punggawa yang dahsyat tergolong Neymar juga mampu mendapatkan gelar jawara.

2. Prancis – Didier Deschamps sampai di Rusia dengan tim yang full dengan punggawa berpotensi. Dari 23 punggawa yang dipanggil, Prancis berisikan punggawa kayak Paul Pogba, Antoine Griezmann, Kylian Mbappe serta Ousmane Dembele hingga menaikkan ekspektasi. Deschamps musti dapat memadukan punggawa berbakat ini jadi suatu power yang mengerikan di Rusia. Ia dapat jadi seseorang ke-3 sehabis Mario Zagallo lalu Franz Beckenbauer yang meraih gelar menjadi manajer serta punggawa.

3. Jerman – Mempertahankan Piala Dunia pastinya amat sukar, dan tiada yang sukses mengerjakannya semenjak Brasil di tahun 1962. Tapi, Jerman merapat ke Rusia 2018 dengan tim yang dapat dikatakan sedikit kuat dari 4 tahun kemarin. Jerman sukses memenangi Piala Konfederasi dengan para punggawa remaja sebagaimana Timo Werner, Leon Goretzka serta Joshua Kimmich. Saat ini semua telah bersiap guna menolong Die Mannschaft mempertahankan gelar.

4. Spanyol – Sehabis tertendang lebih awal di Brasil 2014 kemudian Euro 2016, Spanyol balik bangkit lantas pergi menuju Rusia di dalam keadaan berkelas. dengan Perpaduan antar pahlawan yang meraih 3 title utama secara terus menerus kira-kira 2008 dan juga 2012, dengan generasi baru, Julen Lopetegui terkesan telah mendapatkan perpaduan yang baik. Performa yang dahsyat di fase kualifikasi serta ketika melawan klub-klub raksasa di dalam pertandingan friendly, dapat memperkuat Kepercayaan jika ini merupakan team Spanyol yang lapar dan amat sangat siap untuk melaju jauh di Rusia.

Sebetulnya masih terdapat satu lagi yang dapat anda katakan menjadi salahsatu team favorit guna memenangi Piala Dunia. Team ini merupakan tim garapan Gareth Southgate, tim nasional Inggris. Bagaimana tidak, Seperti yang dapat kita baca di situs livescore Liga Champions, tim Inggris saat ini dihiasi oleh para punggawa superstar. Malah, kapten mereka esok, Harry Kane, merupakan salahsatu striker paling populer yang sangat diinginkan di Dunia sekarang. Belum lagi masih terdapat Dele Alli yang makin main impresif dengan Tottenham di kompetisi musim kemarin, Sterling yang ready menjadikan barisan depan The Three Lions jadi amat tajam, tidak ketinggalan wonderkid Manchester United, Marcus Rashford, yang jelas bakal diwaspadai oleh semua pemain belakang lawan. Walaupun negara-negara lainnya sebagaimana Spanyol, Prancis, Brasil serta Jerman mempunyai kedalaman tim yang sedikit sempurna, tapi Inggris pastinya sepertinya bisa diwaspadai. Apalagi, Inggris sendiri telah lama tak menjuarai Piala Dunia, jadi tentu, mereka bakal mempunyai tekad yang bagus guna jadi jawara di tahun ini.

Selain Inggris juga ada Belgia yang menurut kami layak menjadi jawara dalam ajang Piala Dunia Rusia 2018. Karena menurut kami skuat yang mereka miliki sekarang ini adalah skuat paling gemilang. Seperti yang kita ketahui, para punggawa Belgia telah bermain di banyak klub top Eropa. Jadi dengan skuat yang mereka miliki sekarang ini, sangat wajar apabila mereka harus diperhitungkan dalam kompetisi kali ini.

Ini Pemain Chelsea Yang Bakal di Depak! Ciaan!

Chelsea saat ini bermain mendominasi pada pentas Premier League. The Blues tengah unggul 10 poin di puncak klasemen lalu dengan 12 pertandingan sisa, mereka hanya tinggal datang waktu untuk memenangkan piala pada akhir musim. Walaupun begitu, Antonio Conte akan melakukan pergantian pada musim panas dengan menarik pemain baru lantaran bakal bertarung di Liga Champions di musim depan. Pemain yang tidak masuk planing tentu saja harus meninggalkan tim.

  1. Berita dari situs ini merilis Mantan kiper Stoke City ini nyaris pindah pada bursa transfer musim salju setelah Bournemouth berminat memprotek jasanya. Namun, The Blues gagal menemukan pengganti punggawa berusia 29 tahun ini sehingga transfernya tidak terjadi. Begovic hanya bermain tujuh kali untuk The Blues musim ini – pada Piala EFL dan Gelar FA dan minimnya waktu bermain membuatnya tidak senang. Pemain asal Bosnia lalu Herzegovina ini merupakan penjaga gawang yang sangat bagus dan dapat dengan mudah menjadi destinasi utama di klub Utama League lainnya. Kecuali Courtois menderita cedera lama atau di jual ke tim raksasa Eropa yang lain, Begovic bakal tetap setia kepada kursi cadangan dan ia musti pindah klub bila mau memperoleh kesempatan bermain seadanya.
  2. Terry masih tetap berada di Chelsea sampai saat ini. Namun, lama lagi pesepakbola berumur 30 tahun tersebut akan kokoh di klub lantaran kontraknya akan selesai di akhir musim panas nanti. Terry hanya bermain dalam 11 pertandingan pada semua ajang kompetisi season ini. Hal itu dikarenakan dia sempat mengalami cedera lalu sudah kalah bersaing dengan Gary Cahill, David Luiz dan Cesar Azpilicueta. Terry memang tidak masuk didalam rencana Antonio Conte hingga ia lebih sering buang-buang waktunya di bangku cadangan. Kecuali memutuskan pensiun pada akhir musim, Terry amat mungkin pindah di cuaca panas menuju MLS ataupun Tiongkok.
  3. Chelsea memang amat jarang memberikan lokasi pada pemain akademi mereka. Walau punya talenta, The Blues lebih senang meminjamkan punggawa binaan mereka ke tim lain. Meskipun begitu, kisah Ruben Loftus-Cheek sedikit lainnya. Ia tidak pernah dipinjamkan ke klub lain namun juga gagal mendapatkan waktu reguler termasuk bersama boss Antonio Conte. Loftus-Cheek amatir dimainkan dalam tujuh pertarungan dan menghabiskan kebanyakan masanya di bangku cadangan. Punggawa berusia 21 tahun tersebut sebaiknya meninggalkan klub dibanding karirnya tamat di Stamford Bridge.
  4. Batshuayi datang ke Chelsea dari Marseille pada cuaca panas dengan biaya 33, 2 juta pounds. Meski ditebus dengan harga mahal, Batshuayi malah lebih sering menghabiskan masanya di bangku cadangan. Malah, Conte terkesan tak percaya dengan bintang Belgia itu lantaran ia lebih menyeleksi memasukkan pemain lainnya saat Diego Costa absen. Hal-hal ini membuat pemain berumur 23 tahun tersebut sukar mengeluarkan kemampuan terbaiknya pada Stamford Bridge. Dalam 12 pertandingan di Premier League, Batshuayi belum pernah jadi starter dan tidak berenang lebih dari 20 menit. Conte boleh saja melepas Batshuayi di musim panas nanti untuk mendapatkan bintang yang pas dengan gaya permainannya lalu berkompetisi dengan Costa di lini muka.
  5. Orang akan berpendapat jika Kurt Zouma tidak pas masuk dalam daftar tersebut setelah pulih dari cedera ligamen. Namun, faktanya sekalipun berbeda. Zouma bermain 100 menit dalam 20 dengan 23 penampilan untuk Chelsea di Premier League season kemarin sebelum terkena cedera berat. Pesepakbola Prancis tersebut sudah kembali fit menjelang terakhir bulan Oktober kemarin sempat berlaga didalam 4 pertandingan di tim U-23 mulai Oktober hingga November. Setelah itu, Zouma hanya diberi kesempatan berenang tujuh menit di Utama League ditambah 90 m penuh dalam tiga performa di Piala FA. Pengalaman Zouma sudah benar-benar pulih tapi Conte memang tidak yakin dengan pemain berumur 22 tahun tersebut.